novello
Reign of a King #1

2. 2 JONATHAN

Hantu seharusnya tetap berada di tempatnya.

Mati.

Jadi, kenapa, sialan, hantu itu menatapku seolah-olah dia siap menyeretku bersamanya ke liang lahat?

Di duniaku, justru sebaliknya. Aku yang menyeret segala sesuatu — dan orang-orang — ke mana pun yang kuinginkan.

Sudah cukup buruk aku harus berada di rumah Ethan untuk merayakan pernikahan putraku dengan putrinya — yang sampai sekarang masih kuanggap bukan keputusan paling cerdas yang pernah dibuat Aiden.

Aku tidak perlu situasi ini diperburuk oleh… hantu ini.

Kalau aku tidak melihat Alicia mati dengan mata kepalaku sendiri, aku akan percaya bahwa entah bagaimana dia telah hidup kembali.

Mungkin dia kembali untuk membalas dendam. Mungkin sudah waktunya dia menegakkan keadilan.

Hanya saja, apa itu keadilan? Jika persepsi setiap orang tentang kata itu berbeda, kebenaran siapa yang merupakan kebenaran sesungguhnya?

Bagiku, keadilan tidak ada. Itu kata sia-sia yang dipungut orang-orang sok benar secara politik untuk menenangkan pikiran kecil mereka.

Keadilan adalah delusi di dunia tempat orang-orang sepertiku menggenggam kendali kekuasaan dengan tangan yang kejam.

Aku tidak percaya pada keadilan. Ayahku percaya, dan dia meninggal saat masih mencarinya. Apa yang diberikan keadilan kepadanya? Ucapan belasungkawa sialan, itulah yang diberikannya.

Sejak saat itu, aku membangun kerajaanku dengan cara-cara tanpa belas kasihan dan membuat keadilan bertekuk lutut tepat di hadapanku.

Di situlah tempat semua orang yang menentangku. Bertekuk lutut.

Alicia — atau kembarannya — berdiri mengelilingi sebuah meja bersama Ethan, menyesap sampanye dari gelas flute. Jari-jarinya yang mungil, dihiasi cat kuku merah, melingkari gelas itu dengan keanggunan tak terbatas.

Dia sama persis. Mulai dari gaunnya dan posturnya yang kaku hingga lekuk lehernya dan kelembutan pipinya. Rambut hitam legamnya dan hidung mungilnya.

Bahkan kontur bibirnya yang penuh.

Semuanya adalah replika.

Namun, ada satu hal yang salah. Atau lebih tepatnya, dua.

Pertama, lipstik merah itu. Alicia tidak akan pernah memakainya.

Kedua, warna matanya. Seperti langit biru gelap tepat setelah perang.

Atau tepat sebelum badai.

Tampaknya, perang dan badai adalah keahlianku. Jika ada kesempatan untuk mengusik kedamaian seseorang dan merebut apa pun yang bisa diambil, aku tidak akan ragu.

Berlawanan dengan anggapan umum, aku bukan orang yang tak punya hati. Aku tak kenal lelah. Aku tidak berhenti sampai perang dan badai itu berakhir sesuai keinginanku.

Kalau tidak, keduanya boleh saja terus berlangsung sampai mereka bertekuk lutut di hadapanku — seperti yang lainnya.

Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, aku tidak bertindak lebih dulu.

Aku berhenti.

Aku mengamati.

Aku menikmati momen itu dan dampak keterkejutannya.

Dia berhasil mengejutkanku, kuakui itu.

Aku tidak suka kejutan — kecuali aku yang memberikannya.

Butuh waktu sesaat bagiku untuk memisahkan apa yang ada di hadapanku dari apa yang sudah kuketahui.

Kenyataan dari masa lalu.

Kebenaran dari imajinasi.

Dan memang dia.

Bukan Alicia.

Melainkan seseorang yang begitu mirip dengannya hingga dia berhasil lolos dari radar pengawasanku selama bertahun-tahun.

Bertahun-tahun, sialan.

Kukira dia mati di suatu lubang, atau pergi entah ke sudut dunia yang lain.

Ternyata, tidak satu pun benar. Dia ada di sini, di dalam kerajaanku. Tepat di bawah hidungku.

Dia muncul dari udara kosong seperti hantu sialan.

Apa dia pikir bisa lolos dari sela-sela jariku semudah ini? Atau dia bisa melarikan diri dariku di wilayahku sendiri?

Sekarang setelah kabut itu tersibak dan pikiranku mulai lebih rasional, aku teringat kapan pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengannya.

Saat itu di pernikahanku dengan Alicia.

Seorang gadis kecil dengan rambut yang nyaris tidak disisir berlari menabrakku, mengangkat mata besarnya yang berkilauan, dan mulutnya membentuk huruf ‘O’. Kata-kata pertamanya kepadaku adalah, “Maaf, Pak.”

Sekarang, dia akan lebih dari sekadar menyesal.

Dia akan berharap dulu tetap menjauh dari kerajaanku.

Si bajingan rendahan Ethan itu pasti berperan dalam semua ini, tetapi dia juga akan membayar harganya. Dan aku akan melakukannya dengan memanfaatkan gadis ini.

Sang hantu.

Si penyusup.

Adik perempuan mendiang istriku.

Rating Chapter ini