novello
Rule of a Kingdom #0.5

1. 1

JONATHAN

MASA LALU

Mereka yang membungkuk setelah kekalahan tidak tahu cara mencengkeram kekuasaan hingga ke tenggorokan.

Mereka tidak tahu cara menjatuhkan musuh-musuh mereka dan memastikan mereka tak pernah bangkit lagi.

Kekuasaan bukan tentang menang. Kekuasaan adalah tentang tidak pernah kalah. Tentang meraih kemenangan demi kemenangan hingga mengalami kekalahan menjadi konsep yang asing.

Kekuasaan adalah merebut langkah pertama di papan catur agar lawan selalu mengikuti arahmu, bukan sebaliknya.

Aku bersandar di kursi ruang kerjaku di rumah, jemariku menopang segelas cognac. Temanku, Ethan, menatapku dari layar laptop. Bahunya tegang di balik setelan berpotongan khas Inggris, sementara alis cokelat kemerahannya mengernyit di atas mata biru kobalt.

“Permainan yang bagus, Jonathan,” gerutunya sebelum menyesap minumannya sendiri.

Aku membiarkan sudut bibirku terangkat membentuk seringai. “Menghancurkanmu selalu menyenangkan, Ethan.”

“Hanya karena kau memenangkan lelang ini, bukan berarti kau menghancurkanku. Aku akan menang di kesempatan berikutnya.”

“Teruslah meyakinkan dirimu sendiri.”

Ethan dan aku sudah saling mengenal sejak masa kuliah. Jika kau bertanya bagaimana kami bisa saling tertarik, aku tak akan mampu menunjuk momen pastinya. Yang kutahu, kami memiliki kecenderungan yang sama, jiwa kompetitif yang sama, dan kami bahkan tertarik pada tipe perempuan yang sama.

Itulah sebabnya kami akhirnya menikah dengan istri kami masing-masing. Atau dalam kasusku, itu adalah salah satu alasannya.

Hubunganku dengan Ethan bermula sebagai semacam keakraban, sebuah persahabatan, karena kami paling memahami satu sama lain. Namun, kini hubungan itu berubah menjadi semacam persaingan. Tak satu pun dari kami suka kalah, dan kami tak segan-segan melakukan apa saja untuk memastikan hal itu.

“Datanglah ke Birmingham.” Ia mengangkat gelasnya ke arahku. “Aku sedang menyiapkan meja poker.”

“Lewatkan.”

“Kau tak ingin menang?”

“Aku hanya berjudi kalau aku bisa memastikan kemenangan.”

“Sejak kapan kau jadi begitu membosankan, Jon?”

“Sejak aku mulai mengalahkanmu dalam permainanmu sendiri.”

“Persetan denganmu.”

“Di mana anjing peliharaanmu, Agnus?” Aku pura-pura mencari di belakangnya. “Hari ini jadwalnya ke dokter hewan?”

Ethan menghela napas berat dan menggeser gelas wiski di atas meja dengan wajah tak suka. “Untuk keseribu kalinya, sudah kubilang jangan menyebutnya anjing, atau aku akan berhenti bersikap baik.”

Justru karena itulah aku melakukannya. Ethan tak suka siapa pun menjelek-jelekkan sahabat masa kecilnya, Agnus, yang sudah dikenalnya sejak kami kuliah. Ia hampir tak pernah menunjukkan kegelisahan, kecuali jika menyangkut keluarganya atau Agnus.

Terdengar suara pintu terbuka dari sisinya, lalu Agnus muncul sambil menggendong seorang gadis kecil berambut pirang yang dikepang. “Ayah!”

Ethan berdiri dan mengambilnya dari pelukan Agnus, dengan seringai lebar di wajahnya. “Bagaimana kabar putri Ayah hari ini?”

Elsa, putri Ethan, menyeringai sambil melambaikan sebungkus cokelat merah. “Agnus membelikanku Maltesers!”

“Benarkah?” Ethan menatap jarum detik arlojinya sebelum memusatkan perhatian pada putrinya yang berusia lima tahun. “Kamu tidak boleh makan terlalu banyak cokelat, nanti gigimu bisa rusak.”

“Seharusnya ini menjadi rahasia kita, Elsa,” bisik Agnus kepadanya.

“Maaf,” katanya sambil menyeringai. “Lain kali kita tidak akan memberi tahu Daddy.”

“Kamu akan menyembunyikan sesuatu dariku, Putri?” Ethan menggelitik perutnya hingga ia tertawa terbahak-bahak.

Seharusnya kami membicarakan sebuah proyek yang sedang kami rancang bersama pihak Jepang, tetapi kalau putrinya ikut muncul, dia tidak akan bisa diajak bekerja.

Dia berubah menjadi begitu sentimental jika menyangkut istri, anak-anak, dan Agnus.

Aku hendak mengakhiri panggilan konferensi ketika Agnus melangkah ke depan kamera. Wajahnya yang biasa-biasa saja menyapaku tanpa ekspresi sedikit pun. Bahkan matanya yang pucat nyaris tampak pudar. Aku balas menatapnya sambil menyeringai, tahu betapa tersinggungnya dia atas nama Ethan setiap kali aku menggagalkan rencananya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengakhiri panggilan itu, membuat layar menjadi hitam.

Brengsek.

Aku terus menatap laptop sambil menyesap minumanku lagi.

Cara Ethan menghadapi keluarganya itu... aneh. Kurasa karena aku tidak bisa benar-benar memahaminya. Aku tidak membiarkan keluargaku menghalangi urusan bisnis. Masing-masing memiliki waktu dan tempatnya sendiri.

Mungkin itu sebabnya dia terus kalah dariku.

Terdengar ketukan kecil di pintu, yang hanya mungkin berasal dari seorang anak kecil. Aku menatap jam tanganku—pukul sembilan, jauh melewati waktu tidur Aiden. Itu tidak mungkin Alicia karena kali ini dia bilang akan minum obatnya. Setiap kali melakukannya, dia akan tertidur sepanjang malam.

Keponakanku, Levi, sedang bepergian bersama saudaraku, James, ke suatu tempat eksotis di Asia. James juga ingin membawa Aiden, tetapi aku melarangnya. Aku tidak memercayai James untuk menjaga putraku. Aku bahkan tidak memercayainya untuk menjaga putranya sendiri. Karena itu, aku mengirim petugas keamanan untuk mengawasi mereka dari kejauhan kalau-kalau dia terlalu larut dalam dunianya sendiri dan kehilangan keponakanku.

“Masuk.” Pintu perlahan terbuka, dan Aiden berdiri di ambang pintu, mengenakan piyama biru polos sambil menatapku meskipun ada keraguan di matanya yang abu-abu gelap. Aku yang mengajarinya—untuk tidak pernah menunduk, tidak pernah merendahkan dagu, dan selalu berjalan dengan kepala tegak. Dia dan Levi adalah masa depan keluarga King, dan mereka tidak boleh lemah.

Dari segi penampilan, Aiden adalah salinanku. Kami memiliki mata yang sama, meskipun matanya lebih besar, mengikuti bentuk mata ibunya. Rambut hitam kami juga mirip, walau rambutku lebih tebal. Warna kulitnya yang cerah merupakan perpaduan antara aku dan Alicia. Namun, kesamaan kami tidak berhenti di situ.

Kami sama-sama pendiam, tetapi tidak tenang. Di balik kepura-puraan itu, sebuah dunia utuh bersembunyi di dalam diri kami—dunia yang sepenuhnya kami simpan untuk diri sendiri. Aku memiliki foto saat usiaku sama dengannya, dan di mataku juga ada tatapan yang sama—keraguan terhadap segalanya.

Aiden sangat berbeda dari Levi. Ayahnya terus mendorong keponakanku untuk bersikap kacau dan mengatakan segala sesuatu yang ada di pikirannya, sedangkan Aiden lebih memilih untuk tidak berbicara kecuali benar-benar terpaksa.

Aku mendorong kursiku ke belakang dan menatapnya dengan tatapan kosong khas milikku. “Kamu seharusnya sudah berada di tempat tidur.”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Pergilah tidur, pejamkan matamu, dan kamu akan tertidur.”

Dia terdiam sejenak, lalu berbisik, “Mum bernyanyi atau membacakan cerita untukku kalau aku tidak bisa tidur.”

“Mum-mu lelah hari ini. Dia harus tidur lebih awal. Aku akan memanggil Margot agar dia membacakan cerita untukmu.”

Aiden dan Levi menyukai kepala rumah tangga kami karena dia memasak makanan favorit mereka dan memanjakan mereka dengan segala cara.

Ia menggelengkan kepala. “Aku tidak mau Margot.”

“Lalu apa yang kau mau?”

Ia menatapku, menelan ludah, dan meskipun usianya hampir sama dengan putri Ethan, aku tidak bisa mengabaikan betapa kesepiannya ia tampak saat ini dibandingkan putri Ethan.

Putraku jarang tertawa atau tersenyum, tetapi ketika melakukannya, biasanya bersama Alicia atau James. Jangan berharap ia terkikik seperti anak-anak lain. Hal itu asing baginya.

“Ayah bisa melakukannya?” Suaranya begitu pelan hingga aku hanya bisa mendengarnya karena ruangan itu sunyi secara ganjil.

Aiden tidak datang kepadaku saat tidak bisa tidur. Ia biasanya pergi kepada Alicia, James, atau Margot.

Ini pertama kalinya.

Aku mempertimbangkan untuk menyuruh pengurus rumah mengantarnya kembali ke kamarnya, tetapi tatapan putus asa di mata kecilnya menghentikanku. Aku tahu ia membutuhkan banyak keberanian untuk datang dan meminta hal itu, dan ia pantas mendapatkan penghargaan.

Aku berdiri dan menuju area ruang duduk. “Kemari.”

Senyum kecil menyentuh bibirnya saat ia perlahan menutup pintu dan mempercepat langkah menuju ke arahku. Aku duduk di sofa yang berhadapan dengan papan catur kaca di atas meja. Aiden melompat ke sampingku, kakinya menggantung di sofa yang tinggi, tetapi ia tetap menjaga jarak di antara kami.

“Kau tahu benda apa ini, Aiden?”

“Papan perang.”

“Kau boleh menyebutnya begitu. Bagaimana kau bisa mendapatkan nama itu?”

“Karena Ayah dan Paman James pergi berperang setiap kali duduk mengelilingi benda ini.”

“Memang begitu. Bagaimana kalau Ayah mengajarimu cara memenangkan perang?”

Ia merapat ke sisiku hingga pahanya menyentuh pahaku, lalu mendongak menatapku dengan mata abu-abu yang lebar. Aku melihat diriku sendiri dalam kekaguman di mata itu, dan itulah cara terbaik untuk melihat diri sendiri. “Ya, tolong.”

Aku mengambil sebuah bidak. “Ini raja, dan kau harus melindunginya dengan segala cara.”

“Seperti nama belakang kita?”

“Tepat sekali. Raja bergerak satu langkah ke segala arah.”

“Kenapa hanya satu langkah?”

“Karena memenangkan perang membutuhkan kesabaran.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk dan meletakkan bidak raja itu ke tangan mungilnya. Ia terus menatapnya, matanya membesar dua kali lipat dan bibirnya sedikit terbuka. Itu cara khususnya dalam memproses sesuatu. Meskipun sangat cerdas, ia masih belajar menyimpan informasi untuk digunakan nanti.

Setelah memberinya waktu untuk mempelajari bidak itu, aku mengambil bidak lain.

“Ini ratu, dan kau juga harus melindunginya.”

“Kenapa?”

“Karena dia bisa bergerak ke segala arah.”

“Itu keren sekali.”

“Memang. Namun, jika kau bisa menang, kau boleh mengorbankannya.”

Keningnya berkerut. “Tapi bukankah raja akan merasa kesepian?”

“Tidak masalah jika dia kesepian selama dia menang.”

Aku melanjutkan penjelasan tentang bidak-bidak lainnya, dan mata Aiden yang penuh kekaguman mengikuti setiap gerakanku seolah-olah ia sedang terhipnosis.

Aku mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuanku agar ia bisa melihat simulasi permainan yang sedang kusiapkan dengan lebih baik. Ia menyeringai kepadaku, wajah mungilnya memancarkan kegembiraan.

Aku tidak tahu ia bisa tersenyum seperti itu, dan bukan di depan Alicia, James, atau Levi, melainkan di depanku.

Ini pertama kalinya.

Siapa sangka aku dan putraku bisa menjalin kedekatan melalui catur? Aku akan mengajarinya menjadi penyerang, membela bukan hanya namanya, tetapi juga dirinya sendiri dan siapa pun yang ia sayangi.

Mungkin aku bukan ayah terbaik di luar sana. Aku tidak sepenyayang Ethan atau sehebat dia dalam mengungkapkan emosi, tetapi aku memiliki satu kelebihan darinya.

Aku tidak akan memanis-maniskan kehidupan untuk putraku. Ia akan belajar sejak dini bahwa ia harus menjadi serigala agar tidak dimangsa serigala lain.

Ia akan menjadi raja yang membuat semua orang bertekuk lutut.

Itulah warisanku.

Di suatu titik, Aiden tertidur dalam pelukanku, bulu mata panjangnya bergetar di atas pipinya yang tembam. Bibirnya sedikit terbuka dan jari-jarinya yang mungil menggenggam kemejaku sebagai pengaman.

Kusentuhkan bibirku ke dahinya.

Aiden akan tumbuh menjadi putra yang membuatku bangga.

Rating Chapter ini