novello
Velella

1. MISBEHAVE

Carina

“Apakah kursi ini sudah ada yang menempati?”

“Sudah.”

Suara decit rendah—kaki kursi bergesekan dengan lantai kayu keras—turut meningkatkan suhu tubuhku. Kesadaran bercampur dengan antisipasi memabukkan yang mengalir deras di pembuluh darahku.

“Sopan santunmu belum juga membaik,” kataku.

“Aku tidak punya sopan santun.”

“Setidaknya soal itu kita sepakat.”

Sebuah kebohongan—satu dari sekian banyak yang telah kukatakan kepadanya. Dia bereaksi seperti yang kuharapkan. Tatapannya bertemu dengan tatapanku, seringai miring muncul di wajahnya, dan emosi yang tak ingin kusebut namanya mengembang di dadaku hingga rasanya ledakan benar-benar mungkin terjadi.

“Kau tampak cantik. Gaunmu bagus.”

“Aku tampil sebelum ini.” Kebohongan lain, disampaikan secermat ketika ujung jari telunjukku mengusap sisi gelas. Suara decit lembut terdengar saat kulitku meluncur di atas embun yang mengembun di permukaannya.

Jika Lev Sokolov tahu bahwa aku membeli gaun ini khusus untuknya sebulan lalu, dia akan … sebenarnya, aku tidak yakin apa yang akan dilakukannya. Aku tak pernah menguji batas di antara kami karena melakukannya bisa berakibat fatal.

Aku berhati-hati. Berhati-hati dengan apa yang kukatakan, berhati-hati dengan caraku bertindak. Demi alasan-alasan egois, bukan hanya karena keluargaku. Hubungan kami adalah kebodohan bagi Lev. Keputusanku untuk terus menemuinya begitu bodoh sampai-sampai kurasa belum ada kata yang diciptakan untuk menggambarkannya.

Namun, di sinilah aku—lagi.

Aku menyilangkan kaki. Lev melirik ke bawah. Kami berdua memperhatikan gaun merah marunku bergeser semakin tinggi di pahaku. Aku mengenakan stoking karena salju sedang turun, tetapi kurasakan sapuan tatapannya seolah-olah tak ada satu lapis pun di antara kami.

“Bagaimana perjalananmu?” Aku sengaja merangkai pertanyaan itu sesantai mungkin, tanpa menarik perhatian.

Kami bisa saja menjadi dua orang asing yang kebetulan duduk bersebelahan di bar hotel ini malam ini.

“Baik. Sibuk.” Suaranya yang dalam merendah sebelum dia menambahkan, “Sekarang lebih baik.”

Aku tersipu. Kurasakan panas menghangatkan pipiku—reaksi yang umum terjadi saat kami berada begitu dekat.

“Kami sedang melakukan ekspansi.”

Aku meraih koktailku dan meneguk sedikit, berharap wiski itu menghilangkan ketegangan yang tiba-tiba menjalar di otot-ototku. Apakah itu berarti dia akan lebih sering berada di sini? Apakah itu berarti ayahku akan terus mengomel tentang orang-orang Rusia saat aku mengunjunginya musim panas nanti?

“Selamat,” kataku.

Lev mengangguk sebagai tanda terima kasih.

Aku tidak mengajukan pertanyaan lain. Aku menatapnya, mencari topik yang aman.

Senyum langka lainnya muncul saat dia terus menahan tatapanku. Senyum kekanak-kanakan itu seolah menghapus usia dari wajahnya. Dia tampak seperti pemuda tujuh belas tahun yang kutemui lebih dari satu dekade lalu.

Terkadang, aku lupa sudah berapa lama kami saling mengenal. Terkadang, dua orang asing yang kebetulan duduk bersebelahan adalah gambaran yang tepat tentang kami. Mungkin orang asing yang saling mengenal, tetapi tidak lebih dari itu.

Lev Sokolov adalah orang yang sulit untuk dikenal lebih dekat.

Seluruh keberadaanku adalah sebuah kepura-puraan, dibangun dari kebohongan-kebohongan yang seharusnya tidak terlalu berarti jika dia adalah orang lain. Seseorang yang terpisah dari dunia yang dengan hati-hati kuhindari. Dengan satu pengecualian.

“Boleh saya membawakan sesuatu untuk diminum, Tuan?”

Lev melayangkan pandangan menilai kepada bartender yang berdiri menunggu. Pria itu—dia memperkenalkan dirinya sebagai Wolfe ketika aku datang—bersikap ramah, nyaris genit, saat menerima pesananku. Entah karena mengharapkan tip besar, benar-benar tertarik, atau mungkin keduanya.

Ekspresi muram Wolfe sekarang akan cocok berada di pemakaman. Lev memang punya pengaruh seperti itu terhadap orang-orang. Dia memancarkan intensitas yang membuat orang sulit bersantai di dekatnya.

Mustahil diabaikan.

“Vodka,” jawab Lev singkat. “Tanpa campuran.”

“Tentu, Tuan.”

Aku meneguk sedikit lagi Manhattan-ku, mengingat toleransiku terhadap alkohol yang rendah. Aku hampir tidak pernah minum minuman keras, hanya sesekali segelas anggur saat makan malam.

Malam ini tidak biasa. Hak sepatuku lebih tinggi. Gaunku lebih pendek. Pakaian dalamku berupa renda-renda tipis, bukan katun yang menutupi seluruh tubuh.

Saat melirik Lev, dia sudah mengamatiku. Bukan kakiku, melainkan wajahku.

Aku kembali tersipu, seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Lagi-lagi, kuusap gelas yang lembap itu dengan ibu jariku, berusaha keras agar ketenanganku tidak lenyap saat mendengarkan dengungan rendah.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya.

“Tidak sedang berekspansi,” jawabku datar. “Pemotongan anggaran lagi.”

Dunia seni selalu menjadi yang pertama kehilangan pendanaan saat resesi.

Perhatian Lev beralih ke ujung bar yang berlawanan. Dia tidak tertarik pada kesulitan keuangan orkestra, tetapi setidaknya dia bertanya. Lebih dari yang bersedia dilakukan banyak orang. Tatapan sebagian besar pria langsung menerawang begitu aku menyebut pekerjaanku.

Musisi bisa terdengar seksi. Namun, pemain biola tidak memiliki efek menggoda yang sama.

“Mereka seharusnya mendatangkan konduktor dari Austria untuk residensi musim semi,” lanjutku. “Dewan mengirim email pagi ini untuk memberi tahu semua orang bahwa acara itu dibatalkan. Kami akan mengulang program yang sama dari tahun lalu, yang tidak akan membantu meningkatkan jumlah penonton.”

Aku tidak menambahkan bahwa aku telah menghabiskan berminggu-minggu berlatih karya-karya yang rencananya akan dibawakan, berharap bisa naik menjadi pemain biola utama pada audisi berikutnya. Aku tetap akan kecewa dengan perubahan rencana ini, bahkan seandainya aku belum mulai mempersiapkan diri untuk pertunjukan yang tak akan pernah berlangsung.

“Minuman Anda, Tuan.” Wolfe meletakkan segelas minuman, lalu bergegas pergi tanpa berusaha mengobrol ringan.

Lev melirik vodka yang kuketahui tidak akan diminumnya.

Aku melihat ke arah yang sebelumnya menjadi pusat perhatian Lev. Jason—pria yang menghampiriku tak lama setelah aku duduk dan mengambil bangku di sebelahku tanpa bertanya apakah bangku itu kosong—telah kembali dari toilet. Aku berencana menjelaskan bahwa aku sedang menunggu seseorang saat dia kembali. Sekarang sudah terlambat, dan dia tidak cukup berani menghampiri selama Lev berada di sampingku.

Aku mengarahkan senyum minta maaf kepada Jason, lalu meneguk minumanku dengan tergesa-gesa untuk mengusir rasa bersalah yang tak semestinya. Es berdenting membentur gelas, ceri terselip di tengah bongkahan es.

“Dia terlalu tua untukmu.”

Mataku langsung beralih pada mata Lev. Aku tidak terkejut dia memperhatikan Jason; aku hanya terkejut dia berkomentar.

“Usianya tiga puluh delapan tahun,” jawabku, dengan nada sedikit defensif.

Informasi yang Jason ungkapkan saat Wolfe meracik minumanku, begitu juga alasannya berada di Chicago—pesta lajang seorang teman kuliah. Ini adalah pernikahan kedua temannya. Pesta lajang pertama diadakan di Vegas, lokasi yang menurut Jason lebih disukainya, sampai dia melihatku. Kalimat itu tidak akan menghasilkan apa-apa, bahkan seandainya aku tidak berada di sini untuk bertemu Lev. Namun, perbedaan usia sepuluh tahun bukan hal yang aneh. Ayahku lima belas tahun lebih tua daripada ibuku. Bukan berarti hubungan mereka merupakan contoh yang ingin kutiru.

Lev mengeluarkan selembar uang seratus dolar yang masih rapi dari sakunya dan melemparkannya ke atas meja bar. “Senang berbicara denganmu.”

Aku mengangguk. “Andai aku bisa mengatakan hal yang sama.”

Dia mencondongkan tubuh lebih dekat, hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter. Begitu dekat sampai aku bisa memetakan rasi bintang bintik-bintik ambar di iris matanya yang sewarna wiski. Aku lupa bernapas setelah tarikan napas pertama yang menangkap aromanya—wol, asap, dan sabun.

“Aku lebih suka kalau kau tidak berbicara.”

“Sama.” Satu kata itu terdengar lebih seperti embusan napas berbisik daripada hinaan, ancaman percikan api itu kembali muncul.

Sungguh disayangkan sekaligus mendebarkan bahwa tak ada jumlah paparan yang mampu meredupkan pengaruhnya terhadapku.

Senyum langka lainnya muncul sebelum Lev melewatiku dan melangkah menjauh dari bar.

Aku tahu dia tidak akan menoleh, jadi akulah yang melakukannya, menggigit bibir bawah sembari mengikuti langkah cepatnya menuju lift. Aku bukan satu-satunya yang memperhatikannya. Setiap orang yang dilewati Lev berhenti sejenak untuk menatap, tak seorang pun kebal terhadap daya tariknya. Hal itu membuatku merasa lebih baik—sekaligus lebih buruk, karena mengetahui ketertarikanku padanya tidaklah unik. Rambutnya sedikit lebih panjang dibandingkan saat kami bertemu pada pertengahan Desember, helaian cokelat gelapnya nyaris menyentuh kerah mantelnya.

Aku kembali menghadap bar sebelum ketertarikanku menjadi terlalu kentara.

Wolfe muncul lagi, ekspresinya kembali hangat dan mengundang. “Ada lagi yang bisa kubawakan?”

Aku menggeleng, mengangkat gelasku untuk menelan sisa minuman. Aku terdiam, lalu mengangguk ke arah gelas pendek yang tak tersentuh di sebelah kananku. “Dia tidak akan kembali.”

“Kerugiannya sendiri.” Wolfe memberiku senyum menawan penuh simpati sebelum menggenggam uang seratus dolar itu dan membawa pergi vodka milik Lev.

Aku menghabiskan minumanku. Mengenakan mantel, lalu berdiri. Aku berbalik dan nyaris bertabrakan dengan Jason.

“Kau mau pergi?” tanyanya, bibirnya mengerucut menjadi cemberut berlebihan untuk menunjukkan kekecewaannya. Bukan ekspresi yang terlalu menarik bagi orang dewasa yang hampir berusia empat puluh tahun. Yang terlintas di benakku adalah bocah besar.

“Besok pagi harus bangun cepat,” kataku. “Nikmati pesta lajannya.”

“Tunggu.” Dia meraih lenganku saat aku melangkah maju.

Tubuhku menegang dan baru rileks setelah dia melepaskan tangannya, seolah merasa lega aku akan tetap di tempat.

“Setidaknya boleh minta nomormu?”

“Itu bukan ide yang bagus.” Kuselipkan kedua tangan ke saku dan mulai berjalan.

“Kau tahu di mana bisa menemukanku!” seru Jason di belakangku.

Aku nyaris tidak mendengarnya. Perhatianku teralihkan, telunjukku menyusuri sisi lurus kartu kunci plastik yang diselipkan Lev ke dalam sakuku.

Rating Chapter ini

5.0(1)