novello
Maestro

2. 1

GERAKAN PERTAMA Aku tidak akan pernah melupakan hari-hari yang kulewati bersamamu.

Tetaplah menjadi sahabatku, karena kau akan selalu mendapati diriku sebagai sahabatmu.

- Ludwig van Beethoven

1 NOVEMBER 1997

FOREST HILLS, NEW YORK

“SELAMAT PAGI, MAHAL KO, SAYANG, WAKTUNYA BANGUN.” IBU MENGINTIP ke kamar tidur yang kami tempati bersama.

“Okay,” gumamku sambil mengucek mata yang masih setengah terjaga. Aku berbalik menyamping dan menyalakan radio jam. Lampu yang berkedip menunjukkan pukul 5.30 pagi, yang berarti aku punya waktu empat puluh menit untuk bersiap. Aku melompat dari tempat tidur dan bergegas ke satu-satunya kamar mandi di apartemen seluas 900 kaki persegi itu. Beberapa jam lagi, aku akan mengikuti audisi di LaGuardia Arts. Setiap jam selama beberapa tahun terakhir kuhabiskan untuk sekolah dan berlatih. Belajar. Dan. Berlatih.

Aku menggosok tubuh dengan air dingin sementara bagian pembuka dari suite cello pertama karya Bach terus terngiang di kepalaku. Tangan kananku menyikat gigi dan aku bersenandung di balik busa mint, sementara tangan kiriku memainkan akor di fingerboard cello imajiner. Suara Ms. Luz terngiang di kepalaku: Pemanasan dengan gesekan busur ke bawah. Pergantian posisi akan lebih mulus setelah bagian legato. Perhatikan artikulasinya. Ini karya yang membangkitkan semangat. Mainkan dengan hati.

“Aurelia,” panggil Ibu. “Kamu harus makan. Kita berangkat tiga puluh menit lagi.”

“Aku segera ke sana.”

Kembali di kamar, aku mengacak-acak isi lemari kecil untuk mencari rok hitam yang longgar dan kemeja berlengan panjang. Aku ingin sekali memakai kaus boy band favoritku, tetapi itu tidak akan memberikan kesan yang baik.

Aku mengoleskan pelembap pada kulit zaitunku yang kuwarisi dari Ibu, lalu menyisir rambut cokelat mudaku yang kusut. Lingkaran hitam mengelilingi mata biruku yang berbentuk almon. “Matamu adalah mata yang paling indah dan tidak biasa,” kata Ibu setiap kali sebelum mencium pipiku.

Wajahku tetap tanpa riasan karena Ibu tidak mengizinkanku memakai makeup.

“Kulitmu indah dan usiamu baru tiga belas tahun.” Lagi pula, kami tidak punya uang untuk kemewahan seperti makeup.

Ibuku, Isabel Ramirez, lahir di Filipina. Tujuh belas tahun lalu, ia tiba di JFK hanya dengan sebuah koper serta nama dan alamat majikan barunya. Ia berniat kembali ke tanah air setelah beberapa tahun, tetapi perselingkuhannya dengan seorang pria Amerika yang lebih tua dan kelahiran seorang anak cinta mengubah rencananya.

Ibu berasal dari salah satu keluarga tertua dan paling terpandang di Manila, sampai-sampai nama mereka digunakan untuk menamai jalan dan pusat perbelanjaan. Mereka menolak mengakui “kesalahan” Ibu, dan alih-alih menyerahkan aku, Ibu justru meninggalkan keluarganya dan kehidupan lamanya.

Adiknya, Paman Jay, menggunakan kata-kata seperti “muda,” “bebas,” dan “suka berpetualang” ketika mengenang masa kecil Ibu. Aku jarang melihat sisi dirinya yang itu. Setiap hari kerja, ia bersiap untuk bekerja, memasak sarapan, menyiapkan makan siangku, lalu pergi ke rumah sakit, tempat ia menghabiskan enam hingga dua belas jam berdiri sebagai perawat instrumen bedah. Setiap sen yang diperolehnya digunakan untuk kebutuhan hidup dan les musik tambahan.

Paman Jay duduk di meja bundar di dapur kecil sambil membaca New York Times. Usianya hanya delapan tahun lebih tua dariku, jadi ia lebih mirip kakak daripada paman. Ia tinggal bersama kami setelah lulus SMA di Filipina pada usia enam belas tahun. Ia diterima di Columbia, tetapi lupa mengirimkan formulir penerimaannya, jadi ia masuk NYU. Itu terjadi lima tahun lalu, dan sampai sekarang ia belum juga menentukan jurusannya. Menurutku, ia menunda kelulusan agar tidak perlu menjadi orang dewasa, mencari pekerjaan sungguhan, dan membayar sewa di tempat lain. Alih-alih kembali ke Filipina untuk mengawasi bisnis keluarga, ia hidup dari uang saku kecil yang diberikan kakak perempuannya. Selama ia mampu membeli bir San Miguel, ia sudah puas.

“Kamu siap, babae, gadis kecil?” tanyanya saat aku duduk.

Paman Jay berbicara dalam bahasa Taglish, campuran bahasa Inggris dan Tagalog, dengan aksen yang menurutnya meniru orang New York, tetapi sebenarnya jauh dari berhasil.

“Kurasa begitu,” jawabku gugup.

“Ayo, Aurelia. Kamu sudah menguasai semua itu.”

“Apa yang Ibu bilang soal bahasa seperti itu?” Ibu menaruh sepiring makanan di depanku. Telur setengah matang dengan nasi goreng dan daging babi tocino. Ditambah roti pandesal favoritku dari toko Filipina di Jalan 14. Ia menyodorkan secangkir jus nanas-jeruk. “Minum pelan-pelan. Kamu tidak mau muntah.”

Anehnya, aku menghabiskan seluruh makanan itu sambil memeriksa dokumen audisi untuk yang kesekian kalinya, tak yakin apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan.

Ibu memelukku dari belakang. “Ibu tahu kamu akan bermain dengan indah. Dan apa pun yang terjadi hari ini, Ibu akan selalu bangga padamu.”

Perjalanan kereta menuju Upper West Side memakan waktu hampir tujuh puluh lima menit.

Jam sibuk dari Forest Hills menuju Manhattan pada Jumat pagi sama sekali tidak terasa sibuk. Perjalanannya lambat, sesak, dan membosankan. Stasiun-stasiun kereta bawah tanah menjadi penyelamat para komuter berkat musik. Musik dimainkan sepanjang hari. Gitaris menggenjreng lagu-lagu Eric Clapton, pemain biola membawakan karya Mozart, penyanyi melantunkan lagu-lagu Aretha Franklin dengan lantang, dan pemain perkusi menabuh bongo atau tong sampah.

Aku menemukan selo di sebuah stasiun kereta bawah tanah, terpukau oleh melodi terindah yang pernah kudengar. Dengan takjub, aku mendengarkan dan menyaksikan pengamen itu memainkan karya yang begitu menghanyutkan. Usia­ku sembilan tahun, tetapi keyakinan dalam jiwaku murni layaknya orang dewasa. Keyakinan itu berkata, Itu. Itulah yang kuinginkan. Aku ingin bermain seindah dirinya. Aku ingin memiliki musik itu.

Aku tidak pernah pandai melakukan apa pun sampai aku memainkan selo.

Ibu memastikan aku kenyang dan berpakaian layak. Uang untuk kegiatan ekstrakurikuler adalah urusan Ayah. Kalau aku ingin menekuni kegiatan atau minat tertentu, aku harus meminta kepada Ayah. Aku memohon-mohon agar dibelikan les selo, dan Ayah mengaturnya, mengira les itu tidak akan berlangsung lama karena, sejujurnya, aku tidak pandai melakukan apa pun. Aku payah dalam olahraga, cedera saat bermain tenis, terkena pukulan di wajah saat softball, dan nyaris tenggelam saat perlombaan renang di klub olahraga. Balet dan tari tap terasa sangat berat dengan dua kaki kiriku. Sedangkan di kelas seni, yah, menggambar lingkaran saja aku hampir tidak bisa.

Namun, pada pelajaran pertama bersama Ms. Luz, ketika selo itu berada di antara kedua kakiku, aku menemukan kebahagiaan. Senar-senarnya terasa begitu alami, dan busurnya menjadi perpanjangan lenganku. Membaca notasi musik terasa mudah.

“Dia berbakat alami,” kata Ms. Luz.

Empat setengah tahun kemudian, musik adalah hidupku. Begitu bangun tidur, jari-jariku terasa gatal ingin memainkan selo. Tepat sebelum tidur, aku mendengar melodi-melodi yang kumainkan hari itu.

Aku tidak tahu apakah semua pemain selo menamai instrumen mereka, tetapi aku menamai seloku Pablo.

Pablo adalah sahabat terbaikku dan penopang hidupku. Dialah penerima semua air mata dan rahasiaku. Pablo tahu ketika aku dan Ayah bertengkar. Dia tahu betapa putus asanya aku ingin diterima di LaGuardia, berlatih lebih dari tiga jam sehari, setiap hari. Dia tahu aku bermimpi bermain bersama orkestra-orkestra terbaik di dunia.

Pablo juga tahu bahwa hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Dalam hidup kami.

Kami menjalani semua ini bersama. Pablo tahu aku menyukai Suite G Mayor karya Bach, tetapi aku lebih ingin membawakan Élégie karya Rachmaninoff. Jika aku memberikan seluruh kemampuanku, Pablo tidak akan mengecewakanku. Kami adalah sebuah tim. Kami punya kesepakatan: Jika aku bekerja sekuat tenaga, dia memberiku kebahagiaan.

Ada kenyamanan dalam mendengar melodi yang berbicara kepadaku. Melodi mengungkapkan segala hal yang tidak mampu kusuarakan. Aku berharap Ayah mau meluangkan lebih banyak waktu untukku. Aku berharap Ibu tidak terlalu banyak bekerja. Aku berharap punya seorang teman untuk diajak bicara.

Di 42nd Street, Ibu dan aku berpindah ke kereta Nomor 1 menuju kawasan uptown.

“Mulai musim gugur nanti, begitulah caramu pergi ke sekolah,” katanya sambil menyeringai penuh percaya diri, yakin akan masa depan yang sedang kutuju, pemberhentian demi pemberhentian, hingga berakhir di 66th Street dan LaGuardia High School. Institusi ikonis yang menjadi pusat film Fame karya Alan Parker pada 1980. Film itu adalah agamaku, yang kusembah setidaknya seminggu sekali. Aku serasa berada di surga begitu mendengar musik pengiring yang kukenal itu.

“Kamu akan bertemu anak-anak sepertimu,” katanya penuh harap. “Kamu akan mendapatkan teman.”

Gerbong kereta bawah tanah berhenti. Kami berada di Stasiun Lincoln Center. Jantungku seperti baru saja berlari maraton. Butir-butir keringat mengalir di dahiku. Inilah saatnya. Aku akan memainkan Pablo dengan segenap kemampuanku. Mereka akan mengingat penampilanku karena itu akan menjadi salah satu penampilan terbaik yang pernah mereka dengar.

Dan jika aku tidak berhasil masuk, hidupku akan berakhir… karena hanya inilah yang bisa kulakukan dengan baik.

Rating Chapter ini