2. BAB DUA
Aku sekali lagi mengamati pantulanku di cermin di seberang, memeriksa wajahku dari segala sudut, lalu mundur selangkah.
Ada kebebasan dalam pertukaran kendali. Kekuasaan. Setidaknya, begitulah yang pernah kudengar.
Aku tidak akan tahu, karena aku menjalani hidup di ujung tanduk.
Anak liar, gadis pesta, sumber kekecewaan yang tak bisa dijinakkan siapa pun. Itulah sebutan yang digunakan untuk menggambarkanku.
Siapakah Sophia Donatella Morelli?
Kalau beruntung, malam ini aku akan mengetahuinya. Apa pun yang terjadi, aku akan terus mencari sampai menemukan gadis yang tersembunyi jauh di dalam diriku dan membebaskannya. Akan kukatakan kepadanya bahwa dia aman dan bisa menjadi dirinya sendiri tanpa konsekuensi.
Bukankah itu alasan aku datang ke klub milik kakakku, Lucian? Alasan aku berdiri di salah satu ruang ganti Violent Delights, bersiap untuk bergabung dengan para pengunjung tempat ini?
Klub ini memanggil sesuatu dalam diriku. Ini adalah tempat hedonistis dan terlarang sepenuhnya, yang diperuntukkan bagi mereka dengan pola pikir tertentu dan selera hasrat yang beragam. Aku menikmati waktuku di sini, sementara aku membenci setiap detik yang kuhabiskan di Stingers Lounge.
Kurapikan aksen sutra pada bustier ketat yang kurancang khusus agar pas mengikuti lekuk tubuhku, lalu kubetulkan sabuk garter dan stocking di pahaku.
Jika ibuku melihatku mengenakan ini, apakah dia akan menganggapnya memalukan? Atau dia akan menggelengkan kepala dan bertanya-tanya di mana letak kesalahannya dalam mendidikku?
Kemungkinan besar, yang kedua.
Sarah Morelli sudah lama menyerah terhadapku. Dia lebih suka mempercayai hal-hal terburuk daripada datang kepadaku sekali saja dan bertanya apakah rumor tentangku benar. Padahal, sebenarnya, hal-hal yang dipublikasikan tentangku sembilan puluh sembilan persen hanyalah rekayasa belaka.
Aku adalah permata hitam yang bersarang di antara lautan berlian putih murninya. Dia tak akan pernah percaya bahwa mungkin akulah yang paling polos di antara putri-putrinya yang berharga. Namun, lagi-lagi, persepsi tentang diriku menjadi kenyataan ketika seseorang menjadi pembangkang dalam keluarga Morelli. Aku lebih suka melawan daripada terus-menerus membiarkan suaraku dibungkam.
Singkirkan itu, Sophia. Ini bukan waktunya mengasihani diri sendiri.
Aku berbalik dan memejamkan mata sejenak untuk melepaskan seluruh ketegangan dari tubuhku. Akhirnya, setelah menarik napas beberapa kali, rasa percaya diriku kembali kukuh, lalu aku melangkah keluar dari pintu.
Udara yang penuh sensualitas menyelubungiku saat aku berjalan menyusuri salah satu lorong pribadi yang dihiasi sapuan warna biru, merah marun, dan nuansa emas yang mewah.
Malam ini, aku berencana menikmati, mengamati, dan melupakan apa pun yang diyakini dunia luar tentang diriku. Aku bukan Sophia Morelli. Aku hanyalah seorang perempuan bertopeng yang sedang menjelajah.
Siapa yang sedang kubohongi?
Sebagai saudara perempuan Lucian, aku tidak mungkin menghilang di sini meskipun berusaha. Dan aku sudah pernah mencobanya, bahkan sampai mengenakan wig dan lensa kontak berwarna pada kunjungan pertamaku. Namun, statusku sebagai saudara kandung pemilik klub terungkap kepada para pengunjung sebelum aku sempat masuk ke lounge.
Aku sempat mempertimbangkan untuk mengunjungi klub-klub lain, tetapi mengurungkan niat. Seberapa keras pun aku berusaha, status selebritasku tetap menjadi risiko yang tidak bisa kulepaskan.
Setidaknya, di sini aku aman.
Aku tidak perlu mengkhawatirkan tabloid, gosip, foto, atau pelanggaran privasiku.
Ada cara untuk melindungi diri, tetapi terkadang tidak harus terus waspada adalah perubahan yang menyenangkan.
Selama bertahun-tahun, aku sudah terlalu sering menurunkan kewaspadaan, hanya untuk menyesalinya kemudian.
Selain itu, aku tahu Lucian lebih suka aku mengeksplorasi sisi-sisi diriku di dalam dinding klubnya daripada di klub milik orang lain.
Aku tahu apa yang akan dilakukannya kepada siapa pun yang berani melewati batas jika menyangkut diriku.
Menyebut emosinya tak terkendali saja belum cukup untuk menggambarkannya.
Syukurlah, dia tidak lagi mengawasi klub setiap malam. Dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama istrinya, Elaine, dan anak-anak mereka. Tidak ada adik perempuan yang ingin memasuki klub kink milik kakaknya, lalu bertemu sang kakak di sana—atau, yang lebih buruk, menyaksikan kakaknya melihat pengalaman pertamanya beralih dari penonton menjadi peserta.
Aku memasuki area lounge yang luas. Seketika, kulitku meremang penuh kesadaran, dan energi berdenyut di sekelilingku. Penempatan strategis furnitur unik serta penataannya menciptakan suasana seolah-olah area itu terdiri dari banyak ruangan. Dengan begitu, beragam kelompok bisa berbaur dan bersantai tanpa merasa berada terlalu berdekatan satu sama lain.
Rasa menggigil menjalar di sepanjang tulang belakangku, dan kulitku merinding seolah-olah ada predator yang mengawasiku.
Hal ini tidak pernah terjadi dalam tiga kali kunjunganku sebelumnya ke klub itu.
Namun, lagi pula, sebelumnya aku tidak pernah ingin merasakan kenikmatan yang tersedia di sini sampai sejauh ini. Saat-saat itu, aku menikmati kegiatan menonton dan menenggelamkan diri dalam keindahan adegan-adegan publik. Semua itu menarikku dan menyentuh sisi diriku yang jarang kubiarkan bebas.
Namun, malam ini ada sesuatu—dorongan mendesak yang tak bisa kujelaskan—untuk menyelami dunia ini secara langsung.
Mungkin perpaduan antara apa yang terjadi sebelumnya malam ini dan kebutuhan untuk merasakan sesuatu selain tuntutan-tuntutan yang ada telah mendorongku.
Untuk kehilangan diriku selama satu malam sebelum kembali ke kehidupan sehari-hariku sebagai persona non grata.
Aku mengamati seisi ruangan dan melihat beberapa pasang mata menatap ke arahku, tetapi tak satu pun terhubung dengan sensasi yang sedang bergejolak di dalam diriku.
Bahwa perasaan asing ini lebih membangkitkan gairah daripada menakutkanku sama sekali tidak masuk akal.
Sebuah koktail. Itulah yang kubutuhkan—sesuatu untuk meredakan ketegangan. Setelah itu, aku akan mencari tahu apa yang telah mengusik inderaku.
Aku berjalan santai menuju bar di sudut ruangan yang paling jauh, lalu duduk di kursi bar.
“Selamat datang kembali, cantik.” Bartender pirang yang tampan itu, Tate, menyapaku.
Ia tersenyum memukau sambil meletakkan serbet koktail di depanku.
“Dirty martini dengan tambahan buah zaitun, benar?” Ia menaruh gelas martini di area persiapan dan menunggu jawabanku.
“Kau ingat. Aku terkesan.”
Ia mengedipkan mata. “Itu pekerjaanku. Aku harus membuat semua wanita cantik tetap senang.”
“Benarkah? Dan itu tidak ada hubungannya dengan fakta bahwa aku saudara perempuan bos?”
“Sama sekali tidak. Aku tidak pernah pilih kasih. Tapi aku akan melakukannya kalau kau memberiku gosip selebritas terbaru.” Senyum malunya membuatku ikut menyeringai dan merasa lebih rileks.
Terakhir kali aku mengunjungi klub ini, Tate dan aku menghabiskan sebagian besar malam dengan saling berbagi cerita tentang pertemuan kami yang kelewat heboh dengan para selebritas papan atas.
“Sejujurnya, aku tidak punya hal baru untuk diceritakan. Itu-itu saja.”
Ia mengangkat alis, lalu menyandarkan lengannya di bar dan menumpukan dagu di atas tangan. “Jangan malu-malu. Beri aku sesuatu.”
“Baiklah. Umm… Kau tahu berita tabloid tentang perseteruan dalam memperebutkan acara-acara sebelum pekan mode?”
“Maksudmu tentang model yang mengetahui pacar desainernya tidur dengan model lain?”
“Yup?”
“Itu semua bohong. Itu aksi publisitas untuk menarik orang-orang ke peragaan busana. Mereka adalah pasangan tiga orang. Sudah begitu selama yang bisa kuingat.”
Raut terkejut di wajah Tate nyaris menggelikan.
“Wow. Aku tidak percaya aku tertipu. Tapi, kau tahu,” Tate berhenti sejenak sambil mengetuk bibirnya. “Sekarang setelah kupikir-pikir, aku sudah melihat mereka bertiga bersama selama bertahun-tahun. Astaga, bodohnya aku.”
“Sekarang giliranmu. Pertemuan seru apa yang baru-baru ini kau alami? Aku tahu kau bekerja sambilan di tempat mewah di Midtown, tempat segala sesuatunya bisa menjadi gila.”
Matanya membelalak. “Jangan bilang siapa-siapa. Aku tidak mau ada yang tahu.”
“Menurutmu Lucian tidak tahu? Yang benar saja.” Aku memutar mata.
“Ayolah, beri aku sesuatu. Aku sudah membocorkan sedikit gosip.”
“Baiklah. Pertama, beri tahu aku apakah malam ini kau berencana menjadi penonton atau peserta?”
Aku mengangkat alis melihat rasa ingin tahunya, dan ia membalas tatapanku sambil menunggu.
Dengan menghela napas, aku menjawab, “Semuanya tergantung apakah aku menemukan seseorang yang menarik setelah mengamati sekitar.”
“Kalau begitu, jika kau sedang mengamati. Aku ingin memberimu informasi lengkap tentang salah satu anggota.” Ia mencondongkan tubuh agar hanya aku yang bisa mendengar perkataannya.
Aku ikut mendekat dan memiringkan telinga ke arahnya. “Aku mendengarkan.”
“Namanya Damon Pierce.” Ia menunggu seolah-olah mengharapkan semacam reaksi.
Aku berpikir selama beberapa saat sambil mengais-ingatanku. Perlahan, aku berhasil menghubungkannya dengan sesuatu. Ya, ia baru-baru ini memenangkan Medali Emas American Institute of Architects. Ia adalah orang yang paling dicari untuk pekerjaan desain dan konstruksi di New York.
Proyek terbarunya, gedung pencakar langit dengan taman hidup, akan dibuka dalam beberapa minggu.
Di luar urusan bisnis, aku belum pernah mendengar apa pun tentang dirinya. Itu berarti ia menyukai privasinya. Kemungkinan besar, ia bukan seseorang yang akan kutemui dalam lingkup pekerjaan atau gaya hidupku.
Untuk memastikan bahwa Tate dan aku sedang membicarakan orang yang sama, aku bertanya, “Kau sedang membicarakan arsitek terkenal di seluruh dunia yang memiliki reputasi berkat konsep strukturalnya yang unik dan tarifnya yang selangit?”
“Di samping hal-hal lainnya.”
“Maksudnya?”
“Dia tipe Dom yang harus diwaspadai setiap sub.”
Jeda yang dia lakukan setiap kali menyampaikan pernyataan mulai sangat menggangguku.
Aku memiringkan kepala, mengernyitkan dahi kepadanya. “Kau tak bisa mulai membocorkan informasi lalu membiarkanku menggantung. Langsung saja ke detailnya. Lucian memeriksa semua anggota. Dia tak akan membiarkan siapa pun masuk jika orang itu melanggar aturannya.”
“Bukan wewenangku untuk tahu alasan Tuan Morelli melakukan apa pun. Informasi yang kudapat mengatakan bahwa Tuan Pierce berbahaya dan bukan orang yang kau inginkan untuk hubungan jangka panjang. Bermainlah dengannya, tapi jangan pernah membiarkan hubungan itu berkembang lebih jauh.”
Kedengarannya mengerikan. Terkadang mendengar gosip memang menyebalkan.
Dibutuhkan banyak usaha untuk memilah kebenaran di antara semua bumbu dan drama yang ditambahkan si pencerita. Aku sudah menjadi subjek begitu banyak cerita sehingga setiap kali seseorang menceritakan kembali suatu kejadian, orang yang menyampaikannya selalu menambahkan sudut pandang mereka sendiri terhadap keadaan yang terjadi.
“Maksudmu apa dengan berbahaya?”
Tate menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang bisa mendengarnya.
“Orang-orang bilang dia pembunuh.”
“Kau bercanda.”
“Tidak, aku serius. Katanya, submissive jangka panjangnya yang terakhir terlalu terikat dan menolak menerima kenyataan ketika hubungan mereka berakhir, jadi dia menyingkirkannya.”
Gagasan bahwa seseorang bisa bertindak sejauh itu membuatku bergidik. Bukankah lebih mudah menyuruhnya pergi atau mengusirnya? Ada sesuatu yang sangat aneh dalam rumor itu, sesuatu yang tak bisa kupahami sepenuhnya.
“Apakah itu berarti dia sekarang tak punya submissive?”
“Benar. Tuan Pierce sesekali datang, menikmati waktunya, lalu pergi. Mereka yang bermain dengannya tahu bahwa dia tak menginginkan apa pun selain malam itu. Meski begitu, mereka semua mengira bisa mengubah pikirannya.” Tate menggeleng. “Bodoh.”
“Dan mereka sudah mendengar rumor itu?”
“Ini rahasia umum di sini. Tak peduli bahayanya, dia tetap menarik pasangan yang bersedia menemaninya semalam tanpa perlu berusaha. Dia menarik mereka seperti lebah pada bunga.
Di luar klub, tak ada yang membicarakannya. Jadi, entah orang-orang mengabaikan rumor itu, atau ada seseorang yang berusaha keras agar hal itu tak diketahui publik.”
“Aku pasti sudah mendengar sesuatu yang sesensasional itu, mengingat kalangan yang biasa kuhadiri. Kurasa Tuan Pierce bukan orang yang terlalu suka bergaul.”
“Lebih seperti tipe pendiam dan tertutup. Pada kesempatan langka ketika dia bersosialisasi, dia melakukannya bersama Tuan Morelli, Tuan Ventana, dan beberapa orang lain dalam lingkaran pertemanan pilihan mereka.” Tate berdiri tegak dan tersenyum kepada orang yang baru saja mendekat.
“Kalau membicarakan Tuan Ventana.”
Aku berbalik menghadap Clark Ventana, kepala operasional Violent Delight.
Dia memberiku senyum nakal yang pasti akan membuat kebanyakan perempuan meleleh di tempat.
“Aku sudah merasa kau akan berkenan hadir malam ini. Dan kenapa aku tidak terkejut kau langsung menuju bar?”
Aku mengangkat bahu dan menjawab, “Tebakan beruntung.”
Menyebutnya tampan saja masih kurang. Clark memiliki aura Hollywood klasik, dengan rambut pirang gelap dan mata biru langit.
Kepercayaan diri dan pesonanya menarikku, tetapi bukan secara romantis. Lebih seperti daya tarik seorang teman atau saudara laki-laki. Mungkin karena hubungannya dengan Lucian. Tak mungkin terjadi apa-apa, bahkan seandainya aku tertarik pada Clark. Lucian terbuka terhadap banyak hal, kecuali jika menyangkut teman-temannya. Mungkin dia ingin mencegahku berakhir bersama seseorang yang terlalu protektif dan sinting seperti dirinya.
Andai saja sang kakak tahu bahwa aku memiliki beberapa sifat kepribadian tak konvensional yang sama dengannya. Tapi itu rahasiaku. Sama seperti banyak rahasia lain yang kusimpan di balik kedok gadis pesta yang dilihat dunia.
“Kau datang lagi untuk mengamati, atau akan ikut berpartisipasi?”
Aku melirik ke belakang ketika rasa geli seperti sebelumnya kembali menjalar di tengkukku. “Itu semua tergantung pada siapa yang menarik minatku.”
“Kalau begitu, biar kutunjukkan tempat ini, dan kau bisa mencari tahu apakah ada yang menarik perhatianmu.”
Menyadari bahwa waktuku bersama Tate telah berakhir, aku turun dari kursi bar dan menyelipkan lenganku ke lengan Clark. “Pimpin jalan, Tuan Ventana.”
Rating Chapter ini